|
|
" Bersama Teratama Library Support System menjadi yang terbaik "
|
|
|
:: artikel ::
" SOFTWARE OPENSOURCE BAGI PERPUSTAKAAN "
Sampai saat ini telah ada jutaan software dibuat dalam berbagai sistem operasi, windows, macintosh, BSD, linux dan sebagainya. Semua software tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis, Close Software, Share Software, Free Software dan Open Source software, yang masing masing memiliki aturan main bagi setiap penggunanya.
PENGERTIAN SOFTWARE OPENSOURCE
Definisi software open source adalah software yang didistribusikan, dimana source kode program aplikasi disertakan, serta pengguna dapat mengakses, melakukan modifikasi atau perubahan terhadap sorcecode (kode program) untuk kepentingan pengguna sesuai aturan yang berlaku. Disinilah kelebihan dari software opensource karena akan mengurangi ketergantungan sebagaimana software lain yang tidak menyertakan source code bagi pengguna.
Dalam distribusinya, software opensource ada yang didistribusikan secara gratis atau tidak dikenai biaya (Free Open Source), ada juga yang berbayar (Open Source). Ada sebagian pemahaman keliru dengan mengartikan Software Open Source sebagai Free Software yang berarti software gratis. Ada juga software Free open Source yang gratisan tetapi distribusinya melalui penyedia jasa yang mensyaratkan biaya untuk instalasi, pelatihan dan layanan teknis lainnya.
Contoh software Opensource yang gratis untuk perpustakaan adalah Senayan dan Ibra FOS. Sedang contoh software opensource perpustakaan yang berbayar adalah IBRA Advance. Semuanya sama sama opensource tetapi berbeda cara pendistribusian.
ANTARA BERBAYAR DAN GRATIS
Software perpustakaan gratis sangat menarik karena pengguna tidak perlu mengeluarkan dana sepersenpun untuk mendapatkan dan menggunakannya. Ini memang menjadi solusi bagi pengguna yang minim dana.
Seringkali masyarakat membenturkan software berbayar dengan gratisan semata mata dari sisi gratis dan tidaknya tanpa mengkomparasikan secara cermat bagaimana fitur, content, kualitas dan fasilitas software yang ditawarkan.
Beberapa hal berikut semestinya menjadi pertimbangan dalam memutuskan memilih software perpustakaan gratis,
- Setiap perpustakaan pasti memiliki aturan main berkaitan administrasi, aturan sirkulasi, layanan, dll.
Apakah software tersebut mampu mengikuti aturan main yang menjadi idealisme perpustakaan atau sebaliknya, perpustakaan yang dipaksa harus mengikuti aturan main software tersebut.
- Bahan pustaka berikut jenis dan macamnya terus berkembang seiring perjalanan zaman, teknologi informasi dan teknologi kemasan informasi. Apakah software tersebut memiliki kemampuan untuk mengelola semua jenis bahan pustaka, termasuk jenis bahan pustaka baru yang sangat mungkin akan muncul diwaktu yang akan datang ?.
- Trouble dan bug program biasanya pasti muncul ditengah perjalanan implementasi program.
Apakah jika terjadi trouble atau bug dalam implemantasi software maka ada yang memberi jaminan untuk perbaikan. Siapakah yang memberi jaminan, gratiskah, cepatkah dan profesionalkah layanannya?.
- Apakah jika perpustakaan membutuhkan fitur atau fungsi program yang belum ada di software maka ada yang menjamin siap dan mampu menambahkan modul program secara terintegrasi. Jika ada maka bagaimana dengan biayanya. Bagaimana jika kebutuhan ini muncul di kemudian hari seiring dengan perubahan manajemen dan peraturan perpustakaan yang dinamis.
- Adakah layanan technicall support yang selalu siap memberikan konsultasi dan solusi teknis dalam setiap permasalahan yang muncul pada perjalanan penggunaan software.
- Adakah jaminan bahwa software tersebut akan terus dikembangkan dan siapakah yang memberikan jaminan tersebut.
- Apakah untuk implementasi software tersebut benar benar gratis atau masih harus melalui jasa lembaga atau perorangan yang berbayar. Jika berbayar apakah layanannya sudah termasuk redevelopment, debuging, garansi, layanan teknis, pelatihan, dan lain lain.
Jika ternyata salah satu atau beberapa dari 7 poin di atas tidak terjawab dengan baik maka software tersebut bukanlah software yang ideal untuk diimplementasikan di perpustakaan. Dengan demikian sebenarnya gratis atau tidak gratis bukanlah satu-satunya permasalahan yang menentukan pilihan software.
BERPIHAK PADA MISI PERPUSTAKAAN
Ketika perpustakaan memutuskan untuk menerapkan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi tentu alasan utamanya adalah tercapainya misi utama perpustakaan, yaitu “Menyediakan Layanan Terbaik untuk Kepuasan Pengguna”. Inilah yang semestinya diperjuangkan dan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan terhadap software perpustakaan apa yang akan dipakai.
Namun demikian ada sebagian perpustakaan yang menjatuhkan pilihan software semata mata karena alasan gratis dengan mengorbankan misi utama perpustakaan. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya pemahaman pihak manajemen perpustakaan atau bisa juga karena dipaksa oleh kondisi ketersediaan dana perpustakaan yang minim.
MAHALKAH SOFTWARE OPEN SOURCE BERBAYAR
Pasaran software perpustakaan di Indonesia sangat variatif, dari 50 ribu sampai 50 juta. Namun demikian untuk software perpustakaan berbayar yang relatif profesional dengan fasilitas yang memenuhi 7 poin ideal, harganya bisa diatas 10 juta. Alasan harga tersebut terutama karena adanya fasilitas redevelopment, pelatihan, garansi dan layanan technical support. Bahkan ada juga yang memberikan fasilitas content yang jika dirupiahkan nilainya cukup besar.
Software yang memiliki fasilitas redevelopment boleh disebut software semi-development. Yaitu sebagai software paket siap pakai, tetapi masih ada fasilitas tambahan coding pemrograman untuk menjadikan software tersebut lebih bisa memenuhi kebutuhan lokal perpustakaan, semisal fasilitas cetak beberapa report yang sesuai kebutuhan lokal, redesain tampilan record hasil penelusuran, redesain cetak kartu anggota, redesain model label buku, dan lain lain. Redevelopment software adalah pekerjaan programer profesional yang standar harganya cukup tinggi. Biaya jasa redevelopment sangat mungkin lebih dari 5 juta rupiah. Tetapi karena fokus pekerjaan, biaya tersebut bisa ditekan oleh perusahaan development software perpustakaan. Redevelopment juga bisa berarti jaminan pengembangan modul program pada masa selanjutnya seiring pengembangan layanan perpustakaan. Misalnya tambahan fasilitas download user yang mensyaratkan member tertentu, integrasi dengan portal lembaga, integrasi dengan pintu masuk elektronik (win gate), tambahan fasilitas diskusi antar member di halaman OPAC, dan lain lain.
Pada software gratis biasanya produsen tidak memberikan layanan redevelopment profesional kepada para pengguna. Dipihak lain, tidak ada pihak luar yang berani menyediakan layanan redevelopment, hal ini terutama karena alasan kesulitan teknis. Jikapun ada jasa yang mampu memberikan layanan redevelopment, maka biayanya akan jauh lebih mahal dari software berbayar karena perbedaan fokus. Ada dua prinsip development yang populer dalam “software development” sebagai algoritma dan karya seni :
- Membuat atau men-development program baru jauh lebih mudah dari pada pekerjaan redevelopment.
- Sipembuat jauh lebih tahu dan lebih kompeten sebagai pelaksana redevelopment ketimbang si bukan pembuat.
Fasilitas lain yang menjadi alasan software opensource menjadi berbayar adalah adanya fasilitas pelatihan, garansi dan layanan technical support yang profesional.
Bisa disimpulkan bahwa harga software perpustakaan opensource berbayar saat ini sudah sangat murah mengingat fasilitas yang menyertainya. Bahkan bisa dikatakan, software perpustakaan berbayar saat ini ada yang “lebih murah dari software gratisan”.
KESULITAS LAYANAN PROFESIONAL FREE OPENSOURCE
Pembuatan dan pengembangan software yang baik menuntut SDM yang bekerja profesional, pengembangan yang berkelanjutan dan fokus atau konsentrasi.
Seorang programer profesional adalah manusia biasa. Tidak mungkin dia menghabiskan jam produktifnya untuk sesuatu yang sama sekali tidak menghasilkan rupiah sebagai penghargaan profesionalnya dan untuk penghidupannya. Sehingga jika pun harus bekerja untuk sesuatu yang tidak menghasilkan insentif, pekerjaan tersebut tidak akan menjadi pekerjaan pokok yang fokus dan berkelanjutan. Jika demikian maka jelas akan sulit diharapkan adanya hasil produk software yang sempurna serta adanya jaminan layanan profesional bagi para pengguna softwarenya.
Dalam kasus lain ada juga pembangunan software gratis yang diorderkan kepada SDM profesional oleh suatu lembaga. Tetapi tidak ada jaminan bahwa proyek tersebut bersifat bekelanjutan dan tidak temporal. Akibatnya tidak ada tanggungjawab lembaga setelah software jadi dan didistribusikan ke masyarakat, terutama jaminan purna instalasi.
Suatu produk software yang bagus seharusnya disertai layanan purna produksi sebagai tanggungjawab produsen terhadap keamanan dan kenyamanan pengguna. Layanan tersebut meliputi pra instalasi, saat instalasi dan purna instalasi. Pelatihan, konsultasi dan redevelopment sebagai pra instalasi, bantuan teknis sebagai saat instalasi, kemudian garansi, konsultasi, debuging, redevelopment, layanan teknis serta pengembangan sebagai jaminan purna instalasi.
Tanpa layanan purna produksi tersebut bisa jadi suatu produk software justru akan melahirkan korban dikemudian hari. Dan kerugian pengguna yang tidak bisa di-uangkan adalah investasi waktu perpustakaan, karena kegagalan dan atau tidak optimalnya implementasi software yang juga berarti kehilangan masa produktifitas layanan perpustakaan dalam waktu yang lama. Terkadang perpustakaan terpaksa harus kembali mundur kebelakang untuk memulai lagi dengan software aplikasi perpustakaan lain yang lebih ideal dan lebih memenuhi kebutuhan perpustakaan.
artikel@mitraperpustakaan.com ======
----------
TAG: Sistem informasi perpustakaan terpadu, Software IBRA Free Open Source, Software Perpustakaan IBRA | www.mitraperpustakaan.com, Software perpustakaan instansi/lembaga, Software perpustakaan Perguruan Tinggi, Software Perpustakaan Sekolah, Software perpustakaan umum, download software
|
|
|
|
|